Wednesday, November 5, 2014 1 komentar

Moratorium PNS!! LAGI???...

MORATORIUM PNS!! LAGI???...

Maaf kawan, udah lama saya sudah off dari posting-isasi. :D

Kali ini curhatan saya sebagai wakil dari masyarakat awam yang mencoba membahas topik terhangat minggu ini tentang rencana kebijakan Menteri PAN-RB Yuddi Chrisnandi mengenai “Moratorium PNS”. Here we go...


P
emberhentian rekrutmen PNS tidak salah lagi akan menjadi topik hangat akhir-akhir ini. Bagai mana tidak, pada tahun pertama implementasi penataan proses rekrutmen CPNS dengan metode CAT, kemudian di bumbui isu Moratorium selama periode masa jabatan kepresidenan di akhir tahun.

Banyak alasan yang muncul sehingga diberlakukannya Moratorium PNS, saya tidak perlu menjelaskannya lebih lanjut karena bukan hak saya. Tapi yang pasti kebutuhan daerah tidak pelak akan sumber daya manusia. Maka dari itu, yang harusnya dikaji ulang adalah sistem, proses kinerja kepegawaian daerah dan pusat.

Banyak sumber daya manusia modern ini yang memiliki impian untuk menjadi seorang PNS, bahkan rela untuk meninggalkan pekerjaan sementaranya hanya untuk fokus tes CPNS. padahal secara perhitungan upah yang diterimanya pasti lebih besar daripada menjadi seorang PNS.

Sebenarnya banyak yang perlu dibenahi dalam sistem kepegawaian pemerintahan kita. Mohon juga untuk dipertimbangkan lagi mengenai rencana diberlakukannya kebijakan ini. Sumber daya manusia yang terarah sesuai dengan spesialisasi jabatannya pasti akan meningkatkan produktivitas kinerja suatu bagian. Maka dari itu, saya sebagai wakil dari masyarakat awam sangat berharap agar dapat memiliki harapan untuk memperjuangkan hal ini. Sebenarnya beberapa saran dapat saya ajukan juga untuk para pemburu PNS,

“jalan tidak selalu lurus, terkadang jalan yang berbelok akan terasa manis di akhir, itulah kehidupan” - J.K Rowling


PNS bukanlah satu-satunya jalan, banyak jalan menuju Roma kawan! Keep Spirit!!
Baca SelengkapnyaMoratorium PNS!! LAGI???...
Saturday, November 30, 2013 0 komentar

Tambah Jalan = Tambah Kemacetan ???

Braess Paradox – Konsep tersebut memang jarang sekali mencuat ke permukaan. Namun, pada kenyataannya hal ini memang benar-benar terjadi di beberapa lokasi di dunia.

Braess Paradox adalah fenomena dimana meningkatkan kapasitas jalan justru malah memacu pertumbuhan dan volume lalu lintas (generated traffic & induced trips). Bangkitan lalu-lintas baru akibat peningkatan kapasitas jalan seringkali membawa dampak negatif yg lebih besar dibanding manfaat awal dari peningkatan kapasitas jalan itu sendiri, yaitu utk memperlancar lalu-lintas. Kemacetan baru yg lebih parah, pemborosan BBM, biaya parkir, kesemrawutan, polusi, kecelakaan, naiknya biaya kesehatan, budaya saling sikut, merupakan dampak negatif yg dirasakan Jakarta sekarang.

Pertambahan ruas jalan dan panjang jalan tidak mungkin dapat mengimbangi kecepatan penambahan mobil di kota. Semakin enak dan nyaman jalannya, semakin banyak orang yang membeli mobil. Pada suatu waktu, macet kembali akan terjadi. Selain itu setiap jalan tol pasti ada pintu keluarnya. Kemacetan akan terjadi di pintu keluar dan di jalan umum setelah pintu keluar karena kapasitas jalan selain jalan tol baru tersebut tetap sama, sementara jumlah mobil telah bertambah. Jalan tol 6 ruas akan membuat nyaman pengguna tol, dan untuk beberapa saat mungkin akan menjadi solusi kemacetan. Namun setelah beberapa saat, kemacetan akan kembali terjadi. Dan kita akan membangun jalan tol baru lagi, begitulah siklus ini terus berulang. Proyek demi proyek terus diadakan. Operator jalan tol untung besar, PU makin banyak proyeknya, distributor mobil untung besar, dan warga Jakarta tetap merasakan kemacetan, dan tentunya polusi yang lebih parah lagi.
Yang semula hanya berpikir dari sisi penyiapan “hardware”, kini beralih menjadi berpikir “soft” bagaimana cara mengubah perilaku dan pilihan masyarakat dalam berkendara, lewat beragam kebijakan Stick and carrot yaitu memberi insentif kepada angkutan umum (carrots) dan disentif bagi angkutan pribadi (stick).
Meningkatkan kapasitas jalan perkotaan seperti di Jakarta sebenarnya tidaklah haram. Boleh, asalkan itu dalam rangka mendukung upaya manajemen permintaan lalu-lintas (Travel Demand Management), dan ini harus dijadikan upaya terakhir. Intinya adalah pembangunan bukanlah sebuah solusi yang benar-benar optimum atau “Solution optimum isn’t the Optimum Solution”.
Sumber : Vivre en Ville, inspired by Raad, 1993
Gambaran di atas merupakan “lingkaran setan” ketergantungan akan kendaraan pribadi. Kondisi perkembangan Jakarta yang bersifat menyebar ke segala arah (urban sprawl) sehingga kemudian memunculkan kota penyangga atau biasa disebut Jabodetabek menyebabkan kepadatan tata ruang yang rendah. Hal tersebut kemudian menyebabkan perjalanan yang lebih banyak akibat interaksi spasial yang ada. Peningkatan jumlah kepemilikan dan penggunaan kendaraan pribadi pun terjadi sehingga secara langsung akan menimbulkan kemacetan. Solusi yang diambil pemerintah yang kurang menyadari akan teori ini apalagi di negara berkembang adalah dengan terus membangun jalan demi meningkatkan supply akan perpindahan.
Implementasi Braess Paradox - Teori ini ternyata sudah disadari di beberapa negara dan kemudian membuat konsep “kontra” . Salah satu yang paling fenomenal ialah Presiden Korsel Lee Myung-bak. Berkat kesuksesannya membenahi Kota Seouwl semasa menjadi wali kota, dengan prestasinya yang paling masyhur ialah restorasi Sungai Cheonggyecheon di jantung Kota Seoul.
Pada akhir 1970, Sungai sepanjang 5,8 km yang mengalir di pusat Kota Seoul ini dijadikan lokasi pembangunan jalan layang persis di atas aliran sungai karena semakin padatnya populasi Seoul dan arus lalu lintas. Mudah ditebak, seiring dengan perkembangan kota, masalah lingkungan yang kumuh dengan lapak pedagang, polusi, dan kemacetan parah mendominasi area Cheonggyecheon.
Ketika terpilih menjadi Wali Kota Seoul pada 2002, Lee Myung-bak menjadikan proyek restorasi Cheonggyecheon menjadi program unggulannya. Misinya satu, yaitu merobohkan jalan layang 4 lajur sepanjang 6 km di atas badan sungai dan mengembalikan lahan hijau di daerah aliran sungai.
Proyek bombastis itu bukan tanpa halangan. Ketika diperkenalkan pertama kali, masyarakat memilih bersikap skeptis untuk dua hal: peluang kemacetan akibat berkurangnya kapasitas jalan dan peluang kerugian ekonomi terutama bagi pedagang. Namun, tangan dingin Lee Myung-bak berbuah manis. Masalah kemacetan diatasi dengan kebijakan sistem transportasi massal yang efisien. Pedagang difasilitasi dengan relokasi dan pendanaan. Selain itu, tidak kurang dari 4.000 pertemuan dengan masyarakat, program “tembok tanda tangan dukungan”, dan penyediaan informasi aktual yang terintegrasi via situs web menjadi kunci solusi dukungan masyarakat.
Dalam waktu 27 bulan, dari wilayah yang kusam, Cheonggyecheon bertransformasi menjadi lahan hijau 28 hektare yang dinikmati 10 juta warga Seoul. Efek samping positifnya juga tidak sedikit. Menurut data tahun 2010, berkat perobohan jalan layang, jumlah kendaraan yang beredar di Seoul menurun 2,3% sehingga penggunaan kendaraan umum meningkat (bus 1,4% dan kereta bawah tanah 4,3%).
Hal yang dilakukan beberapa negara seperti, Istanbul di Turki, Teheran di Iran yang paham akan konsep pemikiran ini sepertinya perlu untuk ditiru, mengurangi kapasitas jalan yang justru mengurangi jumlah perjalanan yang ada.
Pandangan Umum – Proyek pembangunan 6 ruas jalan tol yang bernilai lebih dari Rp. 40 triliun ini direncanakan berstruktur elevated dan menghubungkan daerah-daerah pusat kegiatan diharapkan pemerintah dapat memberi manfaat dalam operasionalnya yang direncanakan konstruksi selesai pada tahun 2020.
Alvinsyah, seorang pakar transportasi Universitas Indonesia menilai, kebijakan penyediaan sarana transportasi publik merupakan masalah prioritas. Artinya bila pemerintah terlebih dahulu membangun ruas jalan tol, pengguna kendaraan pribadi-lah yang diuntungkan.
Sedangkan menurut Ofyar Z Tamin, seorang pakar transportasi Institut Teknologi Bandung (ITB) pembangunan ruas tol dalam kota hanya menguntungkan operator jalan tol dan industri mobil. Seharusnya pemerintah memikirkan solusi transportasi massal yang baik dan menguntungkan bagi rakyatnya.
Berbagai pihak lain pun sangat menyesalkan kebijakan pembangunan ruas tol dalam kota ini. Namun, kebijakan transportasi yang bersifat multisektoral dianggap menjadi inti dari semua permasalahan ini. Ketidak sesuaian visi antar sektor yang menjadi penyebab munculnya produk kebijakan yang kurang efektif dan efisien.


Reference :
Baca SelengkapnyaTambah Jalan = Tambah Kemacetan ???
Thursday, October 10, 2013 0 komentar

PNS, Swasta, atau Wiraswasta


S
etiap orang pasti bercita-cita menjadi seorang yang sukses pada waktu dewasa. Hidup sejahtera dengan materi yang berkecukupan. Oleh karena itu, mereka berlomba-lomba untuk mencapai pendidikan setinggi-tingginya demi mencapai hal tersebut. Kuliah hingga strata Doktor, Profesor demi mengejar karir yang terbaik.
Motivasi orang memang berbeda dalam progres mereka menuju kesuksesan. Ada yang ingin kerja santai tapi punya penghasilan tinggi, ada yang benar-benar mengeksploitasi ilmu yang ia peroleh, dan lain sebagainya. Semuanya berorientasi pada karir yang sukses dengan penghasilan besar dan mencukupi.
Banyak kasus yang terjadi ketika menjelang kelulusan/wisudanya, mereka bingung untuk menentukan kemana mereka akan melangkah. Lapangan pekerjaan yang kian terbatas kini membuat dunia kerja menjadi ajang “saling sikut” untuk memperoleh titik awal karir terbaik.

“Mau sejahtera? Jadi PNS”, demikian celotehan banyak orang ketika ditanya ingin jadi apa dia. Bukti konkretnya adalah tingginya pertumbuhan PNS sebesar 1,63% tiap tahunnya(Kemenpan). Paradigma ini tentu tidak sepenuhnya benar karena banyak orang yang berprofesi di luar PNS lebih sukses daripada menjadi abdi negara. Para wiraswasta merupakan pahlawan negara dengan menciptakan lowongan pekerjaan baru bagi dan pegawai swasta yang bekerja sesuai dengan keahliannya.

PNS, Swasta atau Wiraswasta – pilihan hidup untuk menentukan kesejahteraan kita di masa yang akan datang. Tiap pilihan tersebut memiliki keunggulan masing-masing sehingga kita harus memaksimalkan pilihan.

Eksploitasi diri – kesejahteraan memang pasti akan diperoleh, hanya masalah waktu. Pendapatan yang tetap berbanding dengan kebutuhan yang terus meningkat, tinggal bagaimana kita memanajemen finansial pribadi kita. Eksploitasi diri merupakan cara ampuh dalam meningkatkan pendapatan kita. Keahlian dan kemampuan kita dapat bermanfaat dengan mencari “celah” yang ada. Seperti contoh seorang PNS yang memiliki usaha bisnis sambilan di rumah. Pendapatan statis dan dinamis tadi pasti akan saling mendukung.


Hidup adalah pilihan, setiap detik akan sangat berarti karenanya. Pemikiran dan kedewasaan-lah yang mampu membawa seseorang berada selangkah lebih depan. (anonim)


PNS, Swasta, ataupun Wiraswasta, jalani saja yang menurut anda, anda sukai. 
Baca SelengkapnyaPNS, Swasta, atau Wiraswasta
Saturday, September 28, 2013 0 komentar

Angkutan Umum Pilihanku !



Jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 200 juta jiwa tersebar di seluruh pelosok negeri dari tengah kota hingga pelosok desa yang hampir tidak berpenghuni. Mereka semua tidak lepas dari kegiatan transportasi untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Berbagai moda transportasi muncul mulai dari konvensional dan sederhana hingga yang modern.

Moda transportasi di Indonesia dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu : (1) kendaraan pribadi, dan (2) Angkutan umum. Kesinambungan antara 2 jenis moda tersebut sangat mempengaruhi keadaan lalu lintas di setiap jaringan jalan. Keduanya memiliki karakteristik pelayanan yang berbeda. Kendaraan pribadi lebih cenderung fleksibel dalam pergerakan perjalanannya, namun memiliki kapasitas yang kecil. Sedangkan angkutan umum memiliki rute yang telah ditetapkan dan memiliki kapasitas angkut yang massal.

Jumlah perjalanan di Jakarta ada sekitar 21 juta perjalanan setiap hari. Adapun jumlah kendaraan bermotor di Jakarta mencapai 9 juta unit. Padatnya perjalanan itu dilayani oleh kendaraan pribadi yang jumlahnya sebesar 98 persen untuk melayani 44 persen perjalanan. Sementara itu angkutan umum yang jumlahnya hanya 2 persen harus melayani 56 persen perjalanan (di antaranya 3 persen dilayani kereta rel listrik Jabodetabek). (POLDA Metro jaya, 2011)


Dari data di atas tampak adanya ketimpangan dan ketidak efektifan moda, sehingga munculnya kepadatan di jalan. Para penumpang angkutan umum yang tidak terlayani dengan baik kemudian berpikir untuk beralih ke kendaraan pribadi, jalan pun semakin tidak mampu menampung seluruh kendaraan yang ada dan kemacetan pun kian  menjadi. Itulah lingkaran setan yang ada di sistem transportasi di Indonesia.

Peningkatan kinerja pelayanan angkutan umum dan pengurangan jumlah kendaraan pribadi sehingga beralih ke angkutan umum harus dilakukan agar tercipta kondisi lalu lintas yang lancar.
2 cara ampuh dinilai cukup meningkatkan kinerja angkutan umum, yaitu:
1. Subsidi, dan
2. Prioritas

Subsidi – Keputusan yang diambil pemerintah akhir-akhir ini cukup membuat kita tercengang. Bagaimana tidak, ketika para ahli transportasi berjuang keras bagaimana  caranya untuk mengurangi dan membatasi jumlah kendaraan pribadi yang beroperasi di Kota-kota besar, pemerintah malah memberikan kewenangan pihak industri otomotif akan adanya program mobil murah. Memang hal tersebut akan meningkatkan pemasukan dari penjualan mobil tersebut, tapi apakah pemerintah tidak memikirkan kerugian Rp. 12,8 triliun per tahun yang diciptakan kemacetan yang notabene diperparah dengan kemungkinan peningkatan kepemilikan kendaraan bermotor akibat program mobil murah tersebut.

Subsidi untuk sektor pelayanan public transport  setidaknya lebih berdampak positif daripada wacana awal tadi. Subsidi tepat sasaran yang membantu operasional angkutan umum sehingga lebih mengutamakan pelayanan yang baik.


Prioritas – Undang – undang LLAJ telah secara jelas menegaskan prioritas angkutan umum di jalan. Prioritas tersebut diharapkan dapat memberikan pilihan ketika kemacetan terjadi. Namun hal tersebut baru dipraktekan secara sempurna oleh angkutan kereta api. Kereta api didahulukan daripada lalu lintas lain dan memiliki jalur khusus yang tidak bisa digunakan oleh moda lain. KRL Commuter dan Kereta Api antar kota beroperasi dan memiliki manajemen terpusat oleh PT. KA sehingga operasional kereta api berjalan dengan sangat baik yaitu mengutamakan kenyamanan dan menggunakan sistem pemberangkatan terjadwal. PT Transjakarta kemudian mengadopsi sistem manajerial tersebut dengan Busway. Namun busway yang ada kini pun tak jarang menemui macet di jalan dan tidak terjadwal dengan baik. Bahkan lane khususnya sering dipakai untuk kendaraan umum lain.

Proyek MRT dan monorail yang sedang berlangsung diharapkan mampu menampung para pengguna jasa transportasi dan membuat sebagian besar orang beralih ke angkutan umum.

Revitalisasi kepengusahaan angkutan umum juga perlu dilakukan dengan menggunakan manajemen terpusat. Seluruh angkutan umum perkotaan diatur secara terpusat dan terjadwal oleh satu manajemen dan pemilik (usaha) angkot tidak perlu repot-repot untuk operasional kendaraannya. Sistem bagi hasil untuk para pemilik kendaraan dan upah per bulan bagi para pengemudinya secara langsung akan meningkatkan pelayanan karena pengemudi tidak terlalu was-was “kejar setoran” tiap harinya. Pelayanan kian membaik sehingga dapat meningkatkan permintaan akan transportasi dan mulai memilih angkutan umum sebagai pilihan utama mereka.

Angkutan umum, jadilah pilihan utama transportasi anda. Karena secara tidak langsung ada melakukan sumbangsih mengurangi satu kendaraan pribadi yang ada di Indonesia.
Angkutan umum pilihanku !!!
Baca SelengkapnyaAngkutan Umum Pilihanku !
 
;